Dr Rudy Sutadi: “Istriku, Dr Lucky Aziza Bawazier Ternyata Berhati Serigala”

Derita Dr. Rudy Sutadi di Balik Jeruji Besi:
“Istriku, Dr. Lucky Aziza Bawazier Ternyata Berhati Serigala”

Jakarta, Warnas

Tragis betul nasib Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, Dokter ahli autis ini harus mendekam di penjara selama delapan tahun gara-gara fitnahan istri sendiri yang juga seorang dokter, Lucky Aziza Bawazier. Fitnahan yang telah dituduhkan kepada Rudy adalah penganiayaan terhadap istri dan pemalusan akte/buku nikah.

Ini memang kisah yang aneh. Latar belakang utamanya agaknya soal upaya penguasaan harta yang bernilai milyaran rupiah. Berikut penuturan Rudy Sutadi yang diwawancara di balik jeruji besi LP Cipinang.

Saya berkenalan dengan Lucky Aziza Bawazier sekitar tahun 1980. Saat itu, kami sama-sama masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tahun 1983 kami lulus, dan langsung bekerja di sejumlah klinik yang membuka praktek dokter 24 jam. Kemudian kami pada tahun 1986 untuk pertama kalinya mendirikan klinik praktek sendiri di Jalan Radio Dalam No.12 Jakarta Selatan.

Kami makin akrab saja, sehingga kami kemudian bersepakat membentuk mahligai rumah tangga. Tepat pada 30 November 1989 kami menikah di Masjid Cut Mutiah Jakarta Pusat, dengan penghulu Muhammad Abdul Fatah. Sedangkan walinya adalah ayah kandung Lucky yaitu Abdulllah Bawazier dengan saksi dari keluarga saya, yaitu Dr. Jody Setyadi, sedangkan dari keluarga Lucky adalah Naif Abdullah Bawazier. Akad nikah tesebut dihadiri oleh keluarga kami.

Begitulah kami menjalani kehidupan  yang cukup membahagiakan, hingga kami mempunyai dua anak laki-laki, Abdullah Prima Prakarsa Dyckyputra dan Muammar Amien Dyckyputra.

Sekitar 15 tahun kami mengarungi bahtera rumahtangga. Namun malapetaka itu akhirnya datang. Berawal dari pertengkaran yang hebat pada sekitar tahun 2002, yakni ketika Lucky menuduh saya berselingkuh dwengan orangtua pasien. Padahal sebenarnya Lucky-lah yang telah berselingkuh dengan sopir pribadinya yaitu Fikri Salim alias Kiki.

Kemudian, Lucky mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama sebanyak dua kali. Yang pertama pada tahun 2003, tetapi gugatan tersebut ditarik lagi karena dia dimarahi kakaknya. Gugatan kedua dilakukan bulan Maret 2004, tetapi kemudian dicabut kembali karwena Lucky baru mengetahui bahwa bila bercerai maka saya juga berhak atas separoh harta gono gini dari keseluruhan harta kekayaan yang kami peroleh selama masa pernikahan.

Dari sinilah Lucky mulai melakukan upaya untuk menguasai seluruh harta kekayaan tersebut. Berbagai upaya untuk mendapatkan harta tersebut ditempuh Lucky, di antaranya dengan menuduh saya telah melakukan penganiayaan terhadap dirinya. Dengan asumsi, bila saya dipenjara maka Lucky dapat berbuat semaunya. Padahal yang terjadi sebenarnya, justru sayalah yang telah jadi korban penganiayaan oleh dirinya.

Kasus penganiayaan terhadap diri saya terjadi pada tanggal 26 Agustus 2004 di Klinik KID-Autis (Klinik Intervensi Dini Autisme) di Jl. Otto Iskandar Dinata Raya No.82, Jakarta Timur. Penganiayaan terhadap diri saya itu dilakukan Dr. Lucky beserta sekitar lima orang laki-laki preman. Yakni dengan memukuli bibir dan mulut hingga menimbulkan pendarahan.

Atas peristiwa penganiayaan itu, saya kemudian membuat laporan ke Polsek Jakarta Timur, setelah sebelumnya memubat visum di RSCM. Laporan atau pengaduan itu bernomor 1279/K/VIII/2004/RESTRO JAKTIM, tanggal 26 Agustus 2004 yang ditandatangani oleh Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian bernama AKP Sarno. Beberapa hari kemudian, saya menerima pemberitahuan dari Polres jakarta Timur, dengan surat tertanggal 12 September 2004, bernomor B/4757/IX/2004/Res.JT yang intinya bahwa laporan saya telah dilimpahkan ke Dir Reskrim Polda Metro Jaya.Tapi, ternyata, Lucky juga melapor ke Polda bahwa dia seolah-olah dianiaya oleh saya. No.LP (Laporan Polisi)nya adalah 2617/K?VIII/2004/SPK Unit II tertanggal 28 Agustus 2004. Selain itu saya juga dilaporkan telah melakukan tindak perusakan kantor klinik. Padahal penganiayaan dan perusakan seperti yang dilaporkan oleh Lucky itu sebenarnya tidak pernah terjadi.

Begitulah, laporan Lucky ternyata terus diproses oleh polisi, hingga saya akhirnya dijadikan tersangka dan ditahan dengan tuduhan melakukan perusakan dan penganiayaan sperti diatur Pasa 406 ayat (1) KUHP dan Pasal 351 ayat (1) KUHP. Anehnya, laporan saya sebelumnya ke polisi sepeerti dianggap angin lalu, padahal jelas ada bukti visum et repertum dari dokter RSCM.

Lebih tragis lagi akhirnya diri saya divonis bersalah oleh hakim. Sehingga sampai kini saya harus harus mendekam di balik jeruji besi LP Cipinang. Sementara Lucky kini dengan leluasa menguasai seluruh harta kekayaan yang telah kami kumpulkan bersama. Bahkan tak hanya itu, uang tabungan saya di BNI pun ludes dikuras dia. Ini kasus aneh memang. Tapi, saya tak akan tinggal diam. Kendati dia mendapat dukungan oknum petinggi Polri, yang terbilang masih ada hubungan famili dengan dirinya, saya tetap akan berjuang memperjuangkan kebenaran.
(aris/tulis)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: